Bayarkafarat.com – Dalam Islam, hubungan antara suami dan istri adalah ibadah yang bernilai pahala apabila dilakukan pada waktu yang tepat. Namun, jika dilakukan di siang hari Bulan Ramadhan maka hal ini termasuk pelanggaran berat yang dapat membatalkan puasa. Apabila terlanjur terjadi, pelakunya wajib untuk membayar kafarat jima’.
Kafarat jima’ bukan hanya untuk membayar denda, tetapi sebagai bentuk penyucian diri terhadap pelanggaran yang telah dilakukan dan ketaatan atas perintah Allah SWT. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait pengertian kafarat jima’ dan ketentuan yang berlaku, simak penjelasan berikut
Pengertian Kafarat Jima’
Kafarat berasal dari kata al-kafru yang artinya penebus atau penutup. Sementara menurut istilah, kafarat adalah tebusan yang wajib dibayar karena sudah melanggar ketentuan syara’ dengan tujuan untuk menghapus dosa tersebut. Adapun kata jima’ berasal dari bahasa Arab jaama’a-yujaami’u-mujaama’atan yang bermakna berkumpul atau bergaul.
Kafarat jima’ adalah denda atau tebusan dosa yang wajib dibayar oleh orang yang sengaja melanggar aturan Islam dengan melakukan hubungan suami istri (jima’) di siang hari bulan Ramadhan. Kewajiban ini sebagai bentuk taubat serta pembersih diri dari dosa yang telah dilakukan. Jika hal tersebut dilakukan pada malam hari setelah matahari terbenam maka sudah diperbolehkan termasuk untuk makan dan minum. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi,
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
Dasar Hukum Kafarat Jima’
Dalil paling jelas mengenai kafarat jima’ adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra sebagai berikut,
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ، وَقَعْتُ عَلَى أَهْلِي فِي رَمَضَانَ، قَالَ: أَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ: لَيْسَ لِي، قَالَ: فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ: لاَ أَسْتَطِيعُ، قَالَ: فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا
“Abu Hurairah meriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lantas berkata, “Celakalah aku! Aku mencampuri istriku (siang hari) di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Merdekakanlah seorang hamba sahaya perempuan.” Dijawab oleh laki-laki itu, “Aku tidak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut.” Dijawab lagi oleh laki-laki itu, “Aku tak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin,” (HR. al-Bukhari).
Setiap ketentuan syariat termasuk kafarat jima’ merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT terhadap makhluknya. Ketentuan tersebut bukan untuk memberatkan, melainkan jalan untuk bertaubat, menghapus dosa, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan memahami pengertian dan dasar hukumnya, kita diajak untuk berhati-hati dalam melaksanakan perbuatan terutama di bulan Ramadhan untuk menghormati bulan yang penuh kemuliaan ini.
Wallahu a’lam
Penulis: Hilda Asani Mustika
Editor: Ghina Shelda Aprelka





